Hutan sawit
Ceritanya lagi nonton film dokumenter rekomendasi dari twit @marisaanita yg judulnya... panjang diklik aja langsung https://www.netflix.com/title/80216393?s=i&trkid=13747225 belum selsai nontonnya baru sampe bagian keanekaragaman hewan dan tumbuhan pulau kalimantan.
Loncat cerita gu selalu tertarik sama hal yang membawa kearah keseimbangan jangka panjang yang erat banget kaitannya sama alam. Buat film film dokumenter tentang kesehatan keseimbangan gampang banget bagi gu buat terhipnotis paling ngga pada saat itu... Ya walaupun itu ga bertahan lama. Selebihnya gu lupa dan kembali normal.
Balik ke pulau kalimantan, di film itu diceritakan bawha kalimantan punya hutan hujan tropis yang luasnya 3/4 pulau itu, lupa itu tahun berapa dan saat ini menyusut dan menghilang setengahnya, setengah dari 3/4 ya bukan stengah dari 1. Apa aja yg ilang?. Cuy kalo hutan ilang ya ilanglah semua yg ada didalemnya. dan berubahlah semua yang hilang itu jadi hutan sawit.
Nyambung ke hutan sawit. Sebenernya untuk tema ini ada lagi film yg menyinggung tema tentang ini, yaitu film yg judulnya Sekola Rimba, lupa penulisannya bener apa ngga, tp kurang lebih sih itu. Disini pihak yang dirugikan adalah orang orang rimba yang mana daerah mereka untuk mencari makan semakin sulit, karna mereka tinggal berpindah2 tempat dan berburu alam sekitar mencari makan.
Kadang kalo lagi nonton film kaya gitu tuh suka kepikiran, apa regulasinya buat orang atau suku yang tinggal berpindah2 tapi lahannya habis dijadiin perkebunan.
Ya gu juga ga munafik kalo perkebunan sawit bawa banyak perubahan dan pertumbuhan ekonomi. Dan gu jg masih cenderung boros dalam penggunan minyak sayur, yang merupakan salah satu hasil produk olahan dari perkebunan sawit. Untuk produk yang satu ini emang bener2 ga pandang bulu, level ekonomi, sampe pandemi jg gurasa gada pengaruhnya sama usaha di perminyakan ini. Ngga salah kalo dari dulu oang kaya sering dapet sebutan raja minyak. Ya karna memang saat ini bisa dibilang sangat pokok untuk memenuhi kebutuhan sehari hari.
Oke dari dua cerita diatas yang kurang detail itu cukup menggambarkan dilema atau kebingungan gu dalam menentukan arah. Oke alay. Anggep aja gu masih gatau mana yg terbaik. Karna keduanya punya sisi positif lebih dari masing masing sudut pandang periode jangka pendek atau jangka panjang kah yang akan menjadi prioritas. Dan masing masing sangat jelas memiliki resiko, wait kayanya lebih enak disebut peluang yang hilang kalo di ekonomi trade off di masing masing pilihan.
Langkah kecil yang mungkin bisa gu lakuin paling cuma sekedar mengurangi pola konsumtif gu untuk konsumsi minyak. Minyak gabisa dipake berulang2 bisa bikin kolesterol. Jd ya ubah pola makan ke arah rebus2an.
Jadi kesimpulannya.. mari menahan diri untuk hal hal yang begitulah
Comments
Post a Comment